Thursday, October 3, 2013

Married's About

Mungkin bukannya tidak mau, tapi tidak bisa. 

Hal ini beberapa kali mengganggu pikiranku, aku sama sekali tidak mengerti kenapa hal ini terus saja dipermasalahkan setiap aku menjawabnya sesuai dengan apa yang kurasakan. Dulu... sekarang...

          Mungkin aku gak.. iya kalau nanti bisa nikah..

          Untuk sekarang dan sedikit waktu hingga nanti rasanya kalimat itulah yang akan menjadi jawaban terbaik dariku jika orang-orang lain membicarakan tentang sebuah pernikahan yang akan terjadi pada tiap orang di masa depan. Yah, walaupun pada kenyataannya karena aku juga masih jadi anak sekolahan, dan itu adalah alasan yang paling tepat, kan?^^

          Aku juga orang islam yang tahu benar bahwa orang yang tak menikah jika sudah menginjak umurnya bukan termasuk golongan umat Rasulullah [mungkin]. Aku tidak dan belum akan mencari jawaban yang pasti tentang pernyataan itu, tapi aku memang beberapa kali mendengarnya dari acara TV.

          Pernikahan itu rumit. Banyak masalah, banyak duka, banyak beban. Tapi semua orang selalu menjadikan itu sebuah dambaan.. tapi untukku, setelah melihat sendiri begitu banyaknya orang menangis di sekitarku, terikat dengan seseorang dan menjalin hubungan seumur hidup berdua selamanya, apa itu tidak terasa mengerikan. O>O


          Melihat Alfin dan beberapa teman lain begitu antusias menanyakan banyak hal private pada guru IPA bu Ida bulan lalu, aku merasa... ah, itu pertanyaan yang bagus juga ya... aku juga semangat sekali belajar banyak tentang hal seperti itu, tapi mainset-ku yang picik ini hanya bisa mempertanyakan hal-hal sekelas anak SMP yang standar saja.. terlalu dekat dengan permukaan, tidak bisa mencapai tengah apalagi dasar.

          ‘Jadi masih bisa punya anak, bu?’

Entah siapa itu, tapi aku pikir hanya kalimat itu yang paling membekas di pikiranku. Bagaimana bisa... aku bahkan tak sepenuhnya mengerti tentang hal itu. Bahkan kalian semua sudah berpikir panjang tentang hal yang aku sendiri merasa sangat jauh. Aku tau, tau sekali... perempuan baru bisa dikatakan sempurna kalau dia bisa melahirkan seorang anak, itu sudah jadi ciri dan kebanggaan penting untuk seorang perempuan, kan?

Ahh.. apa ini.. tiba-tiba lidahku kelu, orang sepertiku... apakah orang sepertiku bisa...? mengatur hidup diri sendiri saja tak mampu...


Sesekali berandai-andai akan senang sekali rasanya punya keluarga kecil seperti itu di masa depan, tapi sepertinya untukku tidak akan bisa. Aku tidak bisa membiarkan itu... maksudku, akan kasihan dan menyesal sekali pria yang memutuskan dirinya untuk menjadikan orang sepertiku sebagai mempelainya. itu.. itu menyedihkan sekali, bagaimana buruknya nasib orang itu hingga harus terikat denganku yang seperti ini.


Karena itu, harus dicegah dari sekarang. Kalau terus memaksakan diri, mungkin akan ada banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi.



Biarkan untuk beberapa saat ke depan hal itu jadi sebuah fairy tail  kecil yang mungkin suatu hari nanti bisa menjadi nyata setelah aku sudah cukup dinilai mampu untuk menghargai hidupku yang entah kapan terjadi itu. 

Yang terpenting sekarang adalah bukan hal itu, tapi bagaimana caraku untuk menemukan jati diri untuk mencapai kebahagiaan pada sisa hidup ini.

Really, I'll find my way if I can be human! 
Maybe, someday.. or not? :DDD

There is always going to be a time, but will you do something when the time comes... :> actually, the future is in our hands, rite? -..-






No comments:

Kembalinya Aku