Mungkin bukannya tidak mau, tapi tidak bisa.
Hal ini beberapa kali mengganggu pikiranku, aku sama sekali
tidak mengerti kenapa hal ini terus saja dipermasalahkan setiap aku menjawabnya
sesuai dengan apa yang kurasakan. Dulu... sekarang...
Mungkin
aku gak.. iya kalau nanti bisa nikah..
Untuk
sekarang dan sedikit waktu hingga nanti rasanya kalimat itulah yang akan
menjadi jawaban terbaik dariku jika orang-orang lain membicarakan tentang
sebuah pernikahan yang akan terjadi pada tiap orang di masa depan. Yah,
walaupun pada kenyataannya karena aku juga masih jadi anak sekolahan, dan itu adalah
alasan yang paling tepat, kan?^^
Aku juga
orang islam yang tahu benar bahwa orang yang tak menikah jika sudah menginjak
umurnya bukan termasuk golongan umat Rasulullah [mungkin]. Aku tidak dan belum
akan mencari jawaban yang pasti tentang pernyataan itu, tapi aku memang
beberapa kali mendengarnya dari acara TV.
Pernikahan
itu rumit. Banyak masalah, banyak duka, banyak beban. Tapi semua orang selalu
menjadikan itu sebuah dambaan.. tapi untukku, setelah melihat sendiri begitu
banyaknya orang menangis di sekitarku, terikat dengan seseorang dan menjalin
hubungan seumur hidup berdua selamanya, apa itu tidak terasa mengerikan. O>O

Melihat Alfin
dan beberapa teman lain begitu antusias menanyakan banyak hal private pada guru
IPA bu Ida bulan lalu, aku merasa... ah, itu pertanyaan yang bagus juga ya...
aku juga semangat sekali belajar banyak tentang hal seperti itu, tapi
mainset-ku yang picik ini hanya bisa mempertanyakan hal-hal sekelas anak SMP
yang standar saja.. terlalu dekat dengan permukaan, tidak bisa mencapai tengah
apalagi dasar.
‘Jadi
masih bisa punya anak, bu?’
Entah siapa itu, tapi aku pikir
hanya kalimat itu yang paling membekas di pikiranku. Bagaimana bisa... aku
bahkan tak sepenuhnya mengerti tentang hal itu. Bahkan kalian semua sudah
berpikir panjang tentang hal yang aku sendiri merasa sangat jauh. Aku tau, tau
sekali... perempuan baru bisa dikatakan sempurna kalau dia bisa melahirkan
seorang anak, itu sudah jadi ciri dan kebanggaan penting untuk seorang
perempuan, kan?
Ahh.. apa ini.. tiba-tiba lidahku
kelu, orang sepertiku... apakah orang sepertiku bisa...? mengatur hidup diri
sendiri saja tak mampu...
Sesekali berandai-andai akan senang sekali rasanya punya keluarga kecil seperti itu di masa depan, tapi sepertinya untukku tidak akan bisa. Aku tidak bisa membiarkan itu... maksudku, akan kasihan dan menyesal sekali pria yang memutuskan dirinya untuk menjadikan orang sepertiku sebagai mempelainya. itu.. itu menyedihkan sekali, bagaimana buruknya nasib orang itu hingga harus terikat denganku yang seperti ini.
Karena itu, harus dicegah dari
sekarang. Kalau terus memaksakan diri, mungkin akan ada banyak kemungkinan
buruk yang akan terjadi.
Biarkan untuk beberapa saat ke
depan hal itu jadi sebuah fairy tail kecil yang mungkin suatu hari nanti bisa
menjadi nyata setelah aku sudah cukup dinilai mampu untuk menghargai hidupku
yang entah kapan terjadi itu.
Yang terpenting sekarang adalah bukan hal itu, tapi bagaimana caraku untuk menemukan jati diri untuk mencapai kebahagiaan pada sisa hidup ini.
Really, I'll find my way if I can be human!
Maybe, someday.. or not? :DDD
There is always going to be a
time, but will you do something when the time comes... :> actually, the future
is in our hands, rite? -..-

